REQUIEM SOCRATES
---- catatan untuk Apologia Plato
seorang sofis, katanya, pernah membisikkan: "Keabadian benda-benda,
dirangkum pada butir-butir kecil yang pernah kita khayalkan.
Mirip puncak piramid menyembunyikan titik lenyap gelombang ruh
ke dalam wujud satu, satu menjadi tiada."
Ranum zaitun, dia mencecap ilham
Murung menyusupi kabut tebal logika
Episode tubuh dan kehancuran;
Lidah merapal, genggaman mulai rapuh,
Remah-remah keyakinan berubah debu meluruh;
Pemberkahan hanya menghasilkan luka.
Tak akan ada yang sia-sia, begitu ia pernah berharap
Kota akan menyimpan selarik komedi
Tentang seorang tua yang dihujat;
Karena berdiri sebagai saksi Athena yang membatu,
Karena mencincang hantu-hantu.
Mempersembahkan teka-teki; orasi di atas meja judi.
Lalu, seperti kepada dinding Labyrinthos, dia bertanya-tanya:
"Siapa yang harus bertanggung-jawab, semisal catatan tak menyimpan
yang mungkin dan tak mungkin? Ataukah juga anak-anak kita masih memagari
kepastian pepatah masa lalu dan prasasti-prasasti?"
Dinding mahkamah menebar anyir keculasan
Membungkam legenda tanah pengembara makna.
Tujuh puluh tahun, tentu saja;
Mata tetap nyalang di bawah terkaman besi
Gerombolan tiran berjubah dan wangi
Siang itu mungkin angin merinding dalam gemerincing tanda
Tuduhan-tuduhan dibaca, bibir mencibir, peri-peri mangkir
Lakon dimainkan untuk tema lama, pengkhianatan purba
Mata ketiga yang diperabukan
Palung kata-kata, denah metamorfosa neraka
Namun Helios dari atas kereta tak perlu menerka
Kapan matahari terkesiap dan meraba-raba
"Demi anjing," ia bersumpah,
"hanya kebenaran dan kebenaran bisa aku simpulkan;
ternyata manusia yang paling berkilau semuanya picik, dan kebijaksanaan muncul
lewat kepala-kepala dari kerak keterasingan. Petualangan Herakles, seperti itulah bisa kuumpamakan, pencarian pembuktian tak bisa disangkalnya orakel.
Apakah tidak sebaiknya aku tinggal begini saja; tanpa pengetahuan serta
kepicikan seperti mereka; memiliki cahaya dan mengagumi kegelapan sekaligus?"
Dingin melumuri wajah demos, perayaan yang samar
Langit mengirim burung nazar mengiringi nalar yang teriris
Mantra-mantra salah arah;
Nasib seperti lintah lekap menghisap,
Upacara-upacara penyucian menguap
Waktu meninggalkan jejak untuk bidikan panah Artemis.
Kedai, fontana, tangga kuil yang berkejaran dan mengalir
Adalah sisa sulur-sulur ingatan tentang abad penuh plakat
Tentang khotbah tanpa penutup;
Pernah, suatu musim panas yang resah
Menghidangkan percakapan begitu basah
Sebab kesejatian tak harus kesenyapan atau kiamat
'Tuan-tuan sekalian," mungkin ia menggerutu atau melucu, "aku adalah lalat
yang dikaruniakan Dewa diatas punggung kuda. Negara tanpa gigitan mahluk
seperti aku akan terlelap dan lamban. Namun orang-orang bukan juga seperti binatang yang mesti digembalakan."
Petak lantai menyingkap gelisah
Kain-kain pucat guardian
Seperti mengais alasan
Namun pegasus terlanjur menjemput
Ada yang tak kembali sore menjelang temaram
Musik penghabisan atau juga lumut kuil
Merangkak mengibaskan asap Tartaros,
Harpa berdawai kamboja mengusap langit lamat-lamat
Athena dalam rengkuh nujum
Menggeliat terjebak jaring maklumat;
Kebenaran kehabisan waktu untuk ditahbiskan
Hanya sempat pada tetes penghabisan jam pasir
Janggutnya terlihat bergetar;
"Sekarang kepada sahabat-sahabat yang telah mengusulkan pembebasan
dan hakim-hakimku yang benar: seperti tidur bahkan tiada terganggu
mimpi. Maut itu kenikmatan. Keabadian kecuali malam yang tunggal.
Siapa yang tak mau dikorbankan untuk mendapat kesempatan bercakap-cakap
Bersama Orpheus dan Musaios, Hesiodes dan Homeros.
Ah, sekiranya ini benar, biarlah aku mati berulang kali. Aku sendiri sangat ingin
Bertemu Palamedos, Aias putera Telamon, atau pahlawan dari masa silam yang
Menjalani hukuman mati korban putusan tak adil.
Aku juga berkesempatan melanjutkan dialegesthai tentang sophrosyne.
Wahai para hakim, apa yang tak hendak diberikan untuk kehormatan bertukar-pikiran dengan panglima perang Troya, dengan Oedipus atau Sysiphus."
Cawan disucikan dalam kilauan Olympia
Koral Laut Tengah tersaput jingga, akhir tanpa akhir.
"Tibalah saat kita berpisah: aku menjelang mati dan kalian menempuh hidup.
Mana yang lebih baik, hanya Dewa yang tahu."
-2001-
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment